e shtunë, 16 qershor 2007

Sebuah kesaksian yang sgt bagus ...

SUMBER : Patzzie

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,

bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.”

Efesus 3: 20-21

"Tuhan keren sekali....!"

Hanya kalimat itu yang bisa terucap dari mulutku sementara di seberang telepon, terus terdengar suaranya melanjutkan pembicaraan yang ada. Ia bercerita tentang Manado. Bagaimana Roh Kudus bergerak dengan luar biasa di sana. Ia bercerita tentang jiwa-jiwa. Bagaimana Tuhan memberinya beban untuk berdiri bagi orang-orang yang belum diselamatkan. Aku tahu ini harus terjadi. Tapi, mendengar hal ini keluar langsung dari mulutnya, aku terperangah. Seakan tidak percaya bahwa ini sungguhan adalah kenyataan.

Ia adalah mamaku. Iya, Mama yang lahir dan bertumbuh dalam keluarga yang religius. Ia tidak percaya soal baptisan air yang diselamkan, tidak suka dengan lagu-lagu rohani yang ‘gaduh‘, orang-orang yang bertepuk tangan, apalagi berbicara dalam bahasa roh.

Ia Mamaku. Mama yang tidak pernah suka aku di gereja Mawar Sharon. Mama yang wajahnya cemberut dan kesal waktu menemaniku dibaptis selam saat FKA 5. Mama yang jengkel setengah mati karena melihat aku mulai sibuk ikut pemasa. Mama yang marah-marah waktu aku pulang pertemuan pendoa karena suaraku hilang akibat terlalu banyak menangis. Dia mamaku. Dan sekarang, dia bercerita tentang jiwa-jiwa dan pergerakan Roh Kudus. Ha? Aku terkagum. Tuhan, ini luar biasa...

Aku masih ingat suatu ketika, selesai sekolah dan latihan basket, aku langsung pergi lagi ikut pemasa. Ketika pulang ke rumah, aku muntah. Mama membentakku dengan keras, “Lihat itu. Cuma sibuk berdoa, akhirnya apa? Sakit kan! Mulai sekarang kamu tidak bisa pergi kesana lagi. Mau dengar siapa, Mama atau mereka?? Kalau kamu sakit, siapa yang mau urus kamu? Panggil sana pemimpin kamu itu, siapa namanya, Kiaw Lan. Nanti si Kiaw Lan yang urus kamu!” Aku tercekat. Aku menyesali kejadian hari ini dan air mataku sudah di pelupuk mata. Sukacitaku selesai pemasa langsung hilang. Aku tahu mamaku, sekali ia bilang tidak, tetap akan tidak. Sekalipun bumi berguncang, ia akan tetap keukeuh dengan apa yang diucapkannya. Ini harga mati bagiku. Hatiku rasanya teriris-iris. Buatku, ini lebih sakit dari putus cinta dengan pacar. Ini hukuman terberat seumur hidupku. Bisakah kamu bayangkan, seorang anak muda yang 3 bulan lalu ketemu Tuhan Yesus dan bertobat, dibaptis air dan Roh Kudus, yang loncatannya paling tinggi saat puji-pujian, yang menangis paling keras waktu penyembahan, yang berapi-api dengan kasih mula-mulanya, baca alkitab dimana saja, berdoa buat keselamatan teman-temannya dalam WC sekolah, yang ingin terus ke gereja, ingin terus ikut pemasa, ingin terus mengenal Bapanya, dan sekarang dilarang melakukan semuanya itu. Sungguh, ini hukuman terberat.

Tapi, aku sadar ini seutuhnya adalah kesalahanku. Aku seharusnya berhikmat membagi waktu. Aku seharusnya memperhatikan kondisi tubuhku juga. Kesalahan ini berakibat fatal. Ini menjadi batu sandungan buat Mama.. . Meskipun begitu, karakterku yang masih belum dewasa, membuatku ingin membantahnya. “Mama tidak tahu apa yang aku alami. Nanti tunggu waktunya, kalau Mama sudah ketemu Tuhan pasti Mama akan sadar.” Ini muncul dalam benakku. Tiba-tiba aku juga teringat kata-kata pemimpinku, yang aku panggil Mami Monic, “Pat, ingat ya. Kamu harus tunduk dan taat sama orang tua. Hormati mereka sekalipun mereka belum lahir baru.” Mulai terjadi perang dalam pikiranku. Aku mulai emosi. Tapi akhirnya, aku menunduk dan bilang, “Iya, Ma. Maaf.”

Mama hanya diam. Wajahnya betul-betul marah. Dalam hati, aku juga berdoa, “Bapa, maaf...”

Dengan letih aku berbaring di tempat tidurku sambil berpura-pura tidur. Kalau aku berdoa, mama pasti akan tahu, dan keadaannya akan semakin parah. Aku berdoa dalam hati sambil dengan sekuat tenaga membendung air mata yang mau keluar. “Bapa, maaf. Patsy salah. Dan soal Mama, aku tahu, ini terjadi supaya aku belajar. Aku masih perlu banyak dibentuk. Juga, aku mau berdoa buat mama, biar nanti ketika waktuMu tiba dalam hidupnya, semua yang aku alami saat ini, saat-saat bertemu denganMu, akan dialaminya juga. Dalam Nama Yesus. Amin.”

Besoknya, Mama sudah kelihatan lebih baik. Kami seperti sudah paham satu sama lain untuk tidak menyinggung lagi masalah semalam. Aktivitas kami berjalan seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berubah dari hidupku. Mulai hari itu, aku lebih berdoa. Aku mulai lebih sering mendoakan Mama. Bahkan tidak jarang, aku hanya mendoakan Mama sepanjang hari... . Ketika aku dalam perjalanan ke sekolah, ketika aku sedang istirahat, bahkan dalam doa makanpun aku membawa Mama untuk Tuhan.

Aku ingin ke pemasa!! Aku ingin ikut Revival Meeting dan pertemuan doa. Aku ingin ke gereja buat ibadah minggu. Tapi di lain pihak, aku juga tidak bisa membantah dan tidak taat sama Mama karena Tuhan tidak berkenan dengan hal itu. Jadi, tidak ada jalan bagiku, selain berdoa. Mengingat, setiap upayaku untuk berdiskusi soal hal ini hanya akan memperumit masalah yang ada. Aku mau ke gereja Mawar Sharon dan lebih dari segala sesuatu aku rindu Mama diselamatkan. Satu hal yang aku sadar, semakin aku giat berdoa buatnya, justru semakin sering aku dimarahi Mama. Bahkan untuk hal-hal yang paling sepele sekalipun, seperti lupa menaruh hp-ku dimana, aku dibentak dengan keras. Dan ini membuatku semakin hancur hati.

Pemimpinku hanya bilang, ini proses pembentukanku juga. Aku menghela napas panjang. Ternyata jadi orang Kristen seperti ini, ya? Tapi aku mau tetap dibentuk. Ini akan berakhir dengan kemuliaanNya bagi keluargaku. Komitmenku semakin kuat untuk mendoakan Mama. Pokoknya, iblis tidak bisa mencuri Mamaku. Dia milik Yesus. Hidupnya akan diubahkan Tuhan. Seluruh keluargaku akan diselamatkan.

Aku mulai mengusahakan perubahan dalam hidupku. Biar nanti Mama bisa lihat kalau aku ke gereja menjadi anak yang lebih baik dan bukan sebaliknya. Aku mulai lebih sering bantu Mama di rumah, mengurangi jadwal latihan basketku dan kegiatan OSIS. Aku mulai belajar lebih menghormati Mama. Mulai belajar menjadi pendengar yang baik ketika Mama bercerita tentang masalah dalam keluarga.

Akhirnya, puji Tuhan, dengan kasih karuniaNya, hati Mama mulai lembut dan terbuka. Ia mengijinkanku untuk ke gereja lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekarang, setiap kali aku pulang dari gereja, aku selalu bercerita kepada Mama tentang apa yang aku alami dan juga apa yang dikotbahkan. Hingga suatu hari, Mama juga tertarik untuk ikut Kemas, dan singkat cerita, tanggal 29 January 2006 yang lalu, sehari sebelum ulang tahunnya ke-50, Mama dibaptis air setelah sebelumnya mendapat baptisan Roh Kudus sewaktu Mama saat teduh sendirian di kamar. Kedengarannya mudah, tapi ini diperjuangkan dengan lutut dan air mata, bukan hanya olehku tapi oleh seluruh anak-anak pemasaku, pemimpin-pemimpinku, juga orang-orang lain yang tanpa kita ketahui sedang berdoa buat kita.

Sekarang, di rumahku yang kecil mungil sudah menjadi ramai. Pemasaku diadakan di rumah, kemas Mama juga. Kami menyebutnya Rumah Pemasa. Rumah Pemasa ini juga adalah rumah milik anak-anak gereja Mawar Sharon. Awalnya tetangga-tetangga heran karena rumah kami sudah menjadi tempat ibadah. Tapi mereka juga mulai terbuka dan menerima hal ini. Luar biasa Tuhan kita!

Siapa yang sangka, Mamaku sekarang sudah menjadi Mama yang seperti ini. Sebagai seorang ibu, dia tidak berubah, dia tetap mamaku tersayang yang tabah, kuat, sabar, baik hati, perhatian, dan sayang sama anak-anaknya. Sekalipun dalam dalam masa-masa remaja kami, kakakku dan aku, ia berperan sebagai single parent, namun ia memerankannya dengan sempurna. Satu hal yang berubah adalah hatinya. Hati yang sekarang sudah diserahkan untuk kemuliaan Nama Yesus. Yang berubah juga adalah fungsinya, yang sekarang sudah menjadi pendoa syafaat untuk keluargaku.

“Terus Patsy, kamu tahu, Mama kok bisa berdoa sampai menangis-menangis begitu. Mama diberi Tuhan beban untuk doakan keluarga-keluarga yang hancur di Manado.” Mama melanjutkan ceritanya ditelepon. Sudah sejam aku berdiri di telepon umum sambil mendengar kisahnya disana.

“Iya, Ma... terus.. terus...?”

“Oh iya, tema ibadah bulan february, doa. Ada Pak Daniel Panji dan Ci’Yeni Veronika yang mau kotbah. Nanti Mama kirim rekaman kotbahnya...”

“Ha? Yang benar? terus.. apalagi kabar Manado?”

“Bulan Maret nanti Mama ikut retreat pendoa. Terus retreat begitu biasanya ngapain, Pat?"

Aku tersenyum... Mama Mama,

“Ya berdoa, Ma. Berdoa semalaman. Dahsyat pasti.... Wuah... kangen Manado....”

Lalu Mama melanjutkan dengan kata-kata yang sampai sekarang terukir dalam dihatiku,

“Pat, Tuhan tidak pernah biarkan kamu di sana. Tetap kuat, ya. Terus berdoa. Nanti kalau dalam rencanaNya, bulan Juni ini Patsy bisa pulang. Mau ada KKR Trip to Hell. Kan Patsy tetap adalah pendoa buat Manado. Kami semua di sini berdoa buatmu. Maju terus anak Mama, ya.”

Aku jadi teringat pergerakan disana. Pergerakan yang berapi-api oleh kuasa Roh Kudus. Aku merindukan hadirat Allah di sana yang tercurah begitu deras dan mengubahkan hidup banyak orang. Melihat semua kenyataan yang ada, bahkan melihat diriku sendiri yang sementara 'disendirikan' dibenua lain, hatiku melimpah dengan kekaguman padaNya. Aku terharu akan kebaikanNya dan menangis di telepon umum. Aku tidak peduli lagi dengan apa kata orang-orang yang melihatku aneh. Pikiranku melayang ke sana dan ketika aku membayangkan bahwa suatu saat nanti aku akan berdoa buat Manado sambil berpegangan tangan dengan Mamaku, ada yang bergetar dihatiku dan membuat air mataku tercurah semakin deras... . Ini luar biasa, Tuhan. Terima kasih...



Adelaide, Australia. 22 feb2007

Dipersembahkan untuk Mama Meta, yang sekarang sudah menjadi Mama anak-anak pemasa juga.

Patsy bangga sama Mama.

Ditulis untuk memberkati saudara-saudaraku seiman yang masih dilarang orang tuanya untuk beribadah. Tetap semangat ya, jangan tawar hati. Tuhan Yesus yang ubahkan keluargaku adalah Tuhan Yesus yang sama yang rindu mengubahkan keluargamu. Terus berdoa dan berdiri buat keluarga karena keluarga kita ada untuk kemuliaanNya.

1 koment:

Hotdin Gurning tha...

saya belum baca..
ntar deh..
tapi halamannya udah saya donlot

GBU.. N thank's